Senin, 30 Oktober 2017

Implementasi Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar

Implementasi Kurikulum 2013 untuk Sekolah Dasar
Berdasarkan survey yang dilakukan di salah satu SD Negeri  Kota jambi di salah satu sekolah yang telah melaksanakan kurikulum 2013, saya mendapatkan  pengalaman yang berharga baik dari segi pengimplementasian kurikulum 2013  serta kendala-kendala yang dihadapi sesama tenaga pendidik dalam melaksanakan kurikulum 2013 di sekolah. Dalam kesempatan ini  mari kita membahas tentang pengimplementasian kurikulum 2013.  Dalam pembahasan ini jika terdapat kekurangan dan kesalahan dalam isi marteri, saya penulis meminta saran dan kritikan dari pembaca agar kita mendapatkan pembelajaran dari pembahasan ini.
A. Latar Belakang
Pada tahun 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memberhentikan Kurikulum 2013 karena dinilai masih kurang sempurna. Pemberhentian itu diatur dalam Peraturan Menteri nomor 159 tahun 2014 tentang evaluasi Kurikulum 2013 yang dikeluarkan tanggal 14 Oktober 2014. Pemerintah melakukan evaluasi dan perbaikan K-13 sampai benar-benar siap digunakan di semua jenjang pendidikan.
Setelahnya, pada awal tahun 2016, kurikulum 2013 dinyatakan sudah selesai revisi dan akan disosialisasikan sebelum bulan Juli 2016. Dengan selesainya revisi kurikulum 2013 ini, pelaksanaan akan berlangsung secara bertahap. Artinya, dalam pelaksanaan tahun pelajaran 2016/2017, masih akan terjadi dualisme implementasi kurikulum, yaitu, KTSP 2006 dan K13. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam Kurikulum 2013, penekanan pada sekolah dasar diarahkan dalam aspek keterampilan siswa. Secara teori, apa yang diinginkan dalam kurikulum 2013 memang sangat bagus. Akan tetapi, dalam pelaksanaan kurikulum ini, masih sangat banyak pendukung-pendukung yang belum memadai dan dipersiapkan dengan matang.
B. Pengertian Kurikulum

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Kurikulum 2013 yang diberlakukan mulai tahun ajaran 2013/2014 memenuhi kedua dimensi tersebut.

C. Implementasi Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 sudah dilaksanakan secara terbatas di beberapa sekolah sasaran (pelaksana kurikulum 2013) pada tahun pelajaran 2013/2014. Guru dan kepala sekolah di sekolah ini sudah dibekali melalui pendidikan dan pelatihan (diklat) implementasi kurikulum 2013, sekaligus telah disediakan pula buku-bukunya.
Tahun pelajaran 2014/2015 ini, jumlah sekolah yang akan melaksanakan kurikulum 2013 bertambah berkali lipat. Jika pada tahun pelajaran 2013/2014 lalu jumlah sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 sangat terbatas (hanya sekolah sasaran), tahun pelajaran 2014/2015 seluruh sekolah harus melaksanakan (untuk SD kelas I, II, IV, V). Para guru kelas yang akan melaksanakan kurikulum tersebut sudah mengikuti pelatihan. Apa istimewanya Kurikulum 2013 terutama untuk Kurikulum Sekolah Dasar? Di samping masih ada perbedaan yang lain, setidaknya ada tiga ciri khusus yang membedakan (dan harus dibedakan) kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya (KTSP) dalam pembelajaran. Berikut adalah sekilas tentang ketiga ciri dimaksud.
Pembelajaran tematik-integratif. Kurikulum 2013 menerapkan pembelajaran tematik-integratif untuk seluruh jenjang kelas, Ini berbeda dengan penerapan pembelajaran pada kurikulum sebelumnya, yang hanya menerapkan pembelajaran tematik (hanya tematik, tanpa tambahan integratif) pada siswa kelas I – III. Sedangkan untuk kelas IV – VI, pembelajarannya berbasis mata pelajaran.
Pendekatan saintifik. Berbeda dengan pendekatan pembelajaran pada kurikulum sebelumnya, pada kurikulum 2013, pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik (ilmiah) dalam pembelajaran dimaksudkan bahwa pembelajaran harus didasarkan pada fakta, bukan sekadar kira-kira. Dalam praktiknya, pembelajaran ini meliputi kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, menarik kesimpulan, mengomunikasikan.
Penilaian autentik. Penilaian yang digunakan dalam kurikulum 2013 adalah penilaian autentik. Yakni penilaian yang menampilkan tugas atau situasi yang sesungguhnya yang mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan esensial yang bermakna; menggunakan berbagai cara dan kriteria holistik (kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap).  Penilaian ini mencakup penilaian proses, penilaian produk, dan penilaian sikap.
Format Penilaian Kompleks. Selain dari sisi materi yang diterima siswa, kita juga bisa melihat teknik penilaian dalam kurikulum 2013 yang sangat kompleks mulai dari penilaian sikap, penilaian produk, dan lain sebagainya. Penilaian ini harus dilakukan oleh guru ketika proses pembelajaran berlangsung. Hal ini pastinya menuntut guru untuk melihat satu-persatu apa yang dilakukan oleh siswa, agar nilai dapat benar-benar valid. Hal yang diharapkan memang bagus, tapi apakah akan efektif dan bisa dilakukan oleh semua guru se-Indonesia? Pertanyaan ini pastinya sudah sering diutarakan oleh banyak pihak, termasuk guru itu sendiri. Dengan sistem penilaian semacam ini, yang banyak terjadi adalah praktik “mengaji” atau mengarang biji (nilai). Guru cenderung lebih memilih cara praktis dalam menilai siswa yang mereka ajar. Yang terpenting bagi mereka adalah apa yang akan dijadikan laporan pembelajaran bisa ditulis dalam sebuah rekapitulasi hasil laporan penilaian. Meskipun mungkin, tanpa melihat proses yang dilakukan.
Mengacu pada permasalahan-permasalahan tersebut, pastinya pemerintah harus mengubah atau paling tidak memudahkan pelaksanaan kurikulum 2013. Jika yang ingin dicapai adalah keterampilan sebagai hasil yang paling banyak diharapkan pada sekolah dasar, akan lebih baik jika dalam segi penilaian juga tidak terlalu dipusingkan dengan format-format penilaian yang menyulitkan.
Selain itu, dalam tuntutan ilmu, pemerintah juga harus menerima risiko yang terjadi jika dalam aspek pengetahuan, akan mengalami penurunan karena yang ditekankan pada kurikulum 2013 adalah aspek keterampilan. Jangan sampai pemerintah melaksanakan kurikulum 2013, tetapi dalam pelaksanaan ujian atau kompetisi yang diadakan oleh dinas, malah cenderung pada aspek pengetahuan. Komitmen dan konsistensi pemerintah dalam kesuksesan kurikulum 2013 sangat dibutuhkan.
D. Kendala Dalam Implementasi Kurikulum 2013
Pengetahuan Dangkal Dalam penerapan kurikulum 2013, semua mata pelajaran diaduk menjadi satu tema dalam konsep tematik. Tidak muncul nama satu mata pelajaranpun dalam kurikulum 2013. Penyampaian materi semua mata pelajaran dilakukan secara menyeluruh dalam satu tema. Guru memang harus benar-benar menguasai cara menyampaikan materi. Yang semula terpilah dalam mata pelajaran tertentu, berubah ke tema-tema yang sudah ditentukan.Dampak yang terjadi dari pembelajaran tematik seperti ini sudah pastinya membuat pembelajaran terkesan sepenggal-sepenggal. Dari satu mata pelajaran, melompat ke mata pelajaran lain. Siswa seakan tidak merasakan perubahan mata pelajaran tersebut.
Sehingga, materi yang diajarkan dalam kurikulum 2013 menjadi dangkal. Suatu contoh, pada materi di kurikulum sebelumnya yang membahas tentang FPB dan KPK dalam mata pelajaran matematika. Materi ini bisa dikupas tuntas dalam satu Kompetensi Dasar sehingga tujuan pembelajaran pada FPB dan KPK benar-benar tercapai. Akan tetapi, pada pelaksanaan pembelajaran tematik dalam kurikulum 2013, materi ini hanya sekilas dikenal oleh anak. Muaranya, anak tidak menguasai secara mendalam materi tersebut. Bisa dibayangkan jika pada semua materi, hanya disampaikan secara- sekilas-sekilas. Sudah pasti pengetahuan anak pada sebuah materi akan terasa “nanggung”.
1.      Kepala sekolah belum mengikuti diklat kurikulum 2013 sehingga pemahaman kurikulum 2013 masih kurang.
2.      Pendampingan pengawas masih belum intensif
3.      Belum memahami kerangka dasar dan struktur kurikulum 2013
4.      Penilaian otentik belum sepenuhnya dipahami oleh guru
5.      Belum mengenal ragam saintifik
6.      Guru belum sepenuhnya menguasai konsep pendekatan saintifik dalam pembelajaran
7.      Guru belum sepenuhnya menguasai metode pembelajaran
8.      Penerapan hasil belajar dan pengisian buku rapor belum sempurnah, hal tersebut disebabkan oleh : 1. Banyak format yang harus diisi oleh guru oleh setiap pembelajaran, 2. Belum ada kriteria standar yang menyatakan tingkat penguasaan materi, 3. Buku rapor harus di cetak per siswa, sementara fasilitas dan sdm belum mencukupi.
E. Kesimpulan dan Saran
1.      Kesimpulan
Berdasarkan uarian diatas serta hasil survey yang dilakukan dapat disimpulan bahwa implemntasi Kurikulum 2013 disekolah tersebut belum terlaksana sebagaimana yang diharapkan. Salah satu masalah tersebut adalah masalah penilaian otentik, penilaian otentik sangat sulit dilaksanakan akibat kurangnya pemahaman tentang pelaksanaan dan struktur kutikulum 2013.
2.      Saran
Berdasarkan penulisan diatas, maka penulis menyarankan agar :
1.      preoses pembelajaran peerteaching supaya lebih diintensifkan salam setiap proses pembelajran yang akan dilaksanakan.
2.      Instrumen penilaian supaya dipersiapkan sebelum pelaksanaan pembelajaran.

Daftar refrensi :
1.         Bahan Diklat TOT calon Fasilitator Nasional Kurikulum 2013. Badan pengembangan sumber daya manusia Pendidikan dan Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.


Kamis, 26 Oktober 2017

Komponen-Komponen Kurikulum

Komponen-Komponen Kurikulum
            Setiap kurikulum yang telah berlaku di Indonesia dari periode sebelum-sebelumnya hingga saat ini dalam penyempurnaan, memiliki beberapa perbedaan sistem. Perbedaan sistem yang terjadi bisa merupakan kelebihan maupun kekurangan dari kurikulum itu sendiri. Kekurangan dan kelebihan tersebut dapat berasal dari landasan, komponen evaluasi, prinsip, metode maupun model pengembangan kurikulum. Untuk memperbaiki kekurangan yang ada, maka disusunlah kurikulum yang baru yang diharapkan akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tuntutan zaman pada saat ini. Bagaimana ketrkaitan dari berbagai komponen tersebut dalam suatu kurikulum ?
Dari kelima komponen tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Dari kelima komponen tersebut dapat kita jelaskan sebagai berikut :
Ø  Komponen Tujuan
Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistrm Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”..Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu.
Ø  Komponen Materi
Dalam menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar tidak lepas dari filsafat dan teori pendidikan dikembangkan. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pengembangan kurikulum yang didasari filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang utama. Dalam hal ini, materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis. Dalam materi pembelajaran hendaknya yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa . isi dari dari kurikulum tersebut menyangkut semua aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pembelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap materi pembelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa.
Ø  Komponen Strategi / metode  pembelajaran
Strategi dan metode merupakan komponen ketiga dalam pengembangan kurikulum. Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Bagaimana bagus dan idealnya tujuan yang harus dicapai tanpa strategi yang tepat untuk mencapainya, maka maka tujuan itu tidak mungkin dapat tercapai. Strategi meliputi rencana, metode dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Sejalan dengan pendapat diatas, T. Rajakoni mengartikan strategi pembelajaran sebagai pola dan urutan umum perbuatan guru-siswa dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dari kedua pengertian diatas, ada dua hal yang patut kita cermati. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan atau strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja, belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian penyusunan langkah – langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan.
Upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal, dinamakan metode. Ini berarti metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, bisa jadi satu strategi pembelajaran digunakan beberapa metode. Misalnya untuk melaksanakan strategi ekspositori bisa digunakan metode ceramah sekaligus metode tanya jawab atau bahkan diskusi dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia termasuk menggunakan media pembelajaran. Oleh karena itu, strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjuk pada a plan of operation achieving something, sedangkan metode adalah a way in achieving something.
Istilah lain juga yang memiliki kemiripan dengan strategi adalah pendekatan (approach). Sebenarnya pendekatan berbeda dengan strategi maupun metode. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Roy Killen (1998) misalnya, mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centered approach) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered approach). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inquiry serta strategi pembelajaran induktif. Dengan demikian, istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karena itu, strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan tertentu.
Ø  Komponen Organisasi kurikulum
Beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorgansiasikan kurikulum. Setidaknya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum, yaitu:
1.  Mata pelajaran terpisah (isolated subject); kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik, semua materi diberikan sama
2.  Mata pelajaran berkorelasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
3.  Bidang studi (broad field); yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan “core subject”, dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut.
4.  Program yang berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.
5.  Inti Masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi.
6.  Ecletic Program, yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik.
Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam sejumlah mata pelajaran tertentu, yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah. Di samping itu, untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri.
Ø  Komponen Evaluasi
Evaluasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kurikulum. Melalui evaluasi, dapat ditentukan nilai dan arti kurikulum sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan apakah suatu kurikulum perlu dipertahankan atau tidak, dan bagian – bagian mana yang harus disempurnakan. Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum, evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, atau evaluasi digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan. Kedua fungsi tersebut menurut Scriven (1967) adalah evaluasi sebagai fungsi sumatif dan evaluasi sebagai fungsi formatif. Evaluasi sebagai alat untuk melihat keberhasilan pencapaian tujuan dapat dikelompokkan kedalam dua jenis, yaitu tes dan nontes.
Refrensi :
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.



             

Minggu, 15 Oktober 2017

Konsep Dasar dan Implementasi Pengembangan Kurikulum 2013



Konsep Dasar dan Implementasi Perkembangan Kurikulum 2013
            Perkembangan zaman telah memberikan kontribusi besar terhadap seluruh perubahan baik dari segi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali pada dunia pendidikan. Semakin berkembangnya suatu zaman maka semakin tinggi pula tingkat pendidikannya. Dalam perkembangan kurikulum tidak terlepas dari kebutuhan akan pendidikan.
            Dalam kurikulum 2013 pembelajaran yang dahulunya dari siswa diberitahu menjadi siswa yang mencari tahu. Pada implementasi kurikulum 2013 anak dituntut untuk aktif dalam mencari tahu suatu topik pembelajaran. Pengembangan pengalaman pembelajaran menjadikan anak mendapatkan kesempatan luas untuk menguasai kompetensi yang diperlukan dikehidupan dimasa kini dan yang akan datang.
            Pada dasarnya  kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. Salah satu pembeda kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya ialah scientific approach. Namun permasalahan yang ditemukan dilapangan masih banyak guru yang merasa kesulitan menerapkan pendekatan tersebut dalam mengajar. Kurikulum 2013 merupakan suatu instrumen peningkatan mutu pendidikan. Namun, kurikulum bukan satu-satunya yang menjadi satu alat untuk meningkatkan mutu pendidikan tersebut.
            Sebagai tenaga pendidik guru diharapkan bisa menyiapkan dan membuka diri terhadap beberapa kemungkinan terjadinya perubahan. Kesiapan guru lebih penting dari pada pengembangan kurikulum 2013. Mengapa guru menjadi penting ? karena dalam kurikulum 2013, bertujuan untuk mendorong peserta didik, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan / mempersentasikan apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran. kurikulum tidaklah layak dijadikan kambing hitam dari permasalahan yang timbul pada dunia pendidikan saat ini. Karena selain kurikulum, sarana –prasarana dan fasilitas dalam proses pembelajaran harus ditinjau dan diperbaiki terlebih dahulu, agar proses pembelajaran berjalan dengan baik.
            Jadi dapat disimpulkan bahwa perubahan kurikulum yang terjadi saat ini memang merupakan suatu langkah maju pemerintah Indonesia untuk menciptakan generasi yang lebih baik dan berkualitas baik dari segi pendidikan maupun dari segi akhlak untuk menciptakan bangsa Indonesia yang bermatabat. Kurikulum 2013 diciptakan sebagai penyempurna dari kurikulum sebelumnya. Dari implementasi kurikulum 2013 ini guru dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mendesain suatu proses pembelajaran agar pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari yang dimiliki seorang siswa dapat tersalurkan dengan baik dan sempurna.

Evaluasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Di Sekolah Dasar

EVALUASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Evaluasi kurikulum pada dasarnya adalah sebagai suatu proses menggumpulkan berbagai informas...