Implementasi Kurikulum 2013 untuk Sekolah Dasar
Berdasarkan survey yang dilakukan di
salah satu SD Negeri Kota jambi di salah
satu sekolah yang telah melaksanakan kurikulum 2013, saya mendapatkan pengalaman yang berharga baik dari segi
pengimplementasian kurikulum 2013 serta
kendala-kendala yang dihadapi sesama tenaga pendidik dalam melaksanakan
kurikulum 2013 di sekolah. Dalam kesempatan ini mari kita membahas tentang pengimplementasian
kurikulum 2013. Dalam pembahasan ini
jika terdapat kekurangan dan kesalahan dalam isi marteri, saya penulis meminta
saran dan kritikan dari pembaca agar kita mendapatkan pembelajaran dari
pembahasan ini.
A.
Latar Belakang
Pada tahun 2014,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memberhentikan Kurikulum 2013
karena dinilai masih kurang sempurna. Pemberhentian itu diatur dalam Peraturan
Menteri nomor 159 tahun 2014 tentang evaluasi Kurikulum 2013 yang dikeluarkan
tanggal 14 Oktober 2014. Pemerintah melakukan evaluasi dan perbaikan K-13
sampai benar-benar siap digunakan di semua jenjang pendidikan.
Setelahnya, pada awal tahun
2016, kurikulum 2013 dinyatakan sudah selesai revisi dan akan disosialisasikan
sebelum bulan Juli 2016. Dengan selesainya revisi kurikulum 2013 ini,
pelaksanaan akan berlangsung secara bertahap. Artinya, dalam pelaksanaan tahun
pelajaran 2016/2017, masih akan terjadi dualisme implementasi kurikulum, yaitu,
KTSP 2006 dan K13. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam Kurikulum 2013,
penekanan pada sekolah dasar diarahkan dalam aspek keterampilan siswa. Secara
teori, apa yang diinginkan dalam kurikulum 2013 memang sangat bagus. Akan
tetapi, dalam pelaksanaan kurikulum ini, masih sangat banyak
pendukung-pendukung yang belum memadai dan dipersiapkan dengan matang.
B. Pengertian Kurikulum
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan
bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,
dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berdasarkan
pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua
adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Kurikulum 2013 yang
diberlakukan mulai tahun ajaran 2013/2014 memenuhi kedua dimensi tersebut.
C. Implementasi Kurikulum 2013
Kurikulum
2013 sudah dilaksanakan secara terbatas di beberapa sekolah sasaran (pelaksana
kurikulum 2013) pada tahun pelajaran 2013/2014. Guru dan kepala sekolah di sekolah ini
sudah dibekali melalui pendidikan dan pelatihan (diklat) implementasi kurikulum
2013, sekaligus telah disediakan pula buku-bukunya.
Tahun
pelajaran 2014/2015 ini, jumlah sekolah yang akan melaksanakan kurikulum 2013
bertambah berkali lipat. Jika pada tahun pelajaran 2013/2014 lalu jumlah
sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 sangat terbatas (hanya sekolah sasaran),
tahun pelajaran 2014/2015 seluruh sekolah harus melaksanakan (untuk SD kelas I,
II, IV, V). Para guru kelas yang akan melaksanakan kurikulum tersebut sudah
mengikuti pelatihan. Apa istimewanya Kurikulum 2013 terutama untuk Kurikulum
Sekolah Dasar? Di samping masih ada perbedaan yang lain, setidaknya ada tiga
ciri khusus yang membedakan (dan harus dibedakan) kurikulum 2013 dengan
kurikulum sebelumnya (KTSP) dalam pembelajaran. Berikut adalah sekilas tentang
ketiga ciri dimaksud.
Pembelajaran
tematik-integratif. Kurikulum 2013 menerapkan pembelajaran
tematik-integratif untuk seluruh jenjang kelas, Ini berbeda dengan penerapan
pembelajaran pada kurikulum sebelumnya, yang hanya menerapkan pembelajaran
tematik (hanya tematik, tanpa tambahan integratif) pada siswa kelas I – III.
Sedangkan untuk kelas IV – VI, pembelajarannya berbasis mata pelajaran.
Pendekatan
saintifik. Berbeda dengan pendekatan pembelajaran pada kurikulum sebelumnya,
pada kurikulum 2013, pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan
saintifik. Pendekatan saintifik (ilmiah) dalam pembelajaran dimaksudkan bahwa
pembelajaran harus didasarkan pada fakta, bukan sekadar kira-kira. Dalam
praktiknya, pembelajaran ini meliputi kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi, menalar, menarik kesimpulan, mengomunikasikan.
Penilaian
autentik. Penilaian yang digunakan dalam kurikulum 2013 adalah penilaian
autentik. Yakni penilaian yang menampilkan tugas atau situasi yang sesungguhnya
yang mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan esensial yang
bermakna; menggunakan berbagai cara dan kriteria holistik (kompetensi utuh
merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap). Penilaian ini
mencakup penilaian proses, penilaian produk, dan penilaian sikap.
Format Penilaian Kompleks. Selain dari sisi
materi yang diterima siswa, kita juga bisa melihat teknik penilaian dalam
kurikulum 2013 yang sangat kompleks mulai dari penilaian sikap, penilaian produk,
dan lain sebagainya. Penilaian ini harus dilakukan oleh guru ketika proses
pembelajaran berlangsung. Hal ini pastinya menuntut guru untuk melihat
satu-persatu apa yang dilakukan oleh siswa, agar nilai dapat benar-benar valid.
Hal yang diharapkan memang bagus, tapi apakah akan efektif dan bisa dilakukan
oleh semua guru se-Indonesia? Pertanyaan ini pastinya sudah sering diutarakan
oleh banyak pihak, termasuk guru itu sendiri. Dengan sistem penilaian semacam
ini, yang banyak terjadi adalah praktik “mengaji” atau mengarang biji (nilai). Guru
cenderung lebih memilih cara praktis dalam menilai siswa yang mereka ajar. Yang
terpenting bagi mereka adalah apa yang akan dijadikan laporan pembelajaran bisa
ditulis dalam sebuah rekapitulasi hasil laporan penilaian. Meskipun mungkin,
tanpa melihat proses yang dilakukan.
Mengacu pada permasalahan-permasalahan tersebut, pastinya
pemerintah harus mengubah atau paling tidak memudahkan pelaksanaan kurikulum
2013. Jika yang ingin dicapai adalah keterampilan sebagai hasil yang paling
banyak diharapkan pada sekolah dasar, akan lebih baik jika dalam segi penilaian
juga tidak terlalu dipusingkan dengan format-format penilaian yang menyulitkan.
Selain itu, dalam tuntutan ilmu, pemerintah juga harus menerima risiko
yang terjadi jika dalam aspek pengetahuan, akan mengalami penurunan karena yang
ditekankan pada kurikulum 2013 adalah aspek keterampilan. Jangan sampai
pemerintah melaksanakan kurikulum 2013, tetapi dalam pelaksanaan ujian atau
kompetisi yang diadakan oleh dinas, malah cenderung pada aspek pengetahuan.
Komitmen dan konsistensi pemerintah dalam kesuksesan kurikulum 2013 sangat
dibutuhkan.
D. Kendala Dalam Implementasi Kurikulum
2013
Pengetahuan Dangkal Dalam penerapan kurikulum 2013, semua
mata pelajaran diaduk menjadi satu tema dalam konsep tematik. Tidak muncul nama
satu mata pelajaranpun dalam kurikulum 2013. Penyampaian materi semua mata
pelajaran dilakukan secara menyeluruh dalam satu tema. Guru memang harus
benar-benar menguasai cara menyampaikan materi. Yang semula terpilah dalam mata
pelajaran tertentu, berubah ke tema-tema yang sudah ditentukan.Dampak yang
terjadi dari pembelajaran tematik seperti ini sudah pastinya membuat
pembelajaran terkesan sepenggal-sepenggal. Dari satu mata pelajaran, melompat
ke mata pelajaran lain. Siswa seakan tidak merasakan perubahan mata pelajaran
tersebut.
Sehingga,
materi yang diajarkan dalam kurikulum 2013 menjadi dangkal. Suatu contoh, pada
materi di kurikulum sebelumnya yang membahas tentang FPB dan KPK dalam mata
pelajaran matematika. Materi ini bisa dikupas tuntas dalam satu Kompetensi
Dasar sehingga tujuan pembelajaran pada FPB dan KPK benar-benar tercapai. Akan
tetapi, pada pelaksanaan pembelajaran tematik dalam kurikulum 2013, materi ini
hanya sekilas dikenal oleh anak. Muaranya, anak tidak menguasai secara mendalam
materi tersebut. Bisa dibayangkan jika pada semua materi, hanya disampaikan
secara- sekilas-sekilas. Sudah pasti pengetahuan anak pada sebuah materi akan
terasa “nanggung”.
1.
Kepala
sekolah belum mengikuti diklat kurikulum 2013 sehingga pemahaman kurikulum 2013
masih kurang.
2.
Pendampingan
pengawas masih belum intensif
3.
Belum memahami
kerangka dasar dan struktur kurikulum 2013
4.
Penilaian otentik
belum sepenuhnya dipahami oleh guru
5.
Belum mengenal
ragam saintifik
6.
Guru belum
sepenuhnya menguasai konsep pendekatan saintifik dalam pembelajaran
7.
Guru belum
sepenuhnya menguasai metode pembelajaran
8.
Penerapan hasil
belajar dan pengisian buku rapor belum sempurnah, hal tersebut disebabkan oleh
: 1. Banyak format yang harus diisi oleh guru oleh setiap pembelajaran, 2. Belum
ada kriteria standar yang menyatakan tingkat penguasaan materi, 3. Buku rapor
harus di cetak per siswa, sementara fasilitas dan sdm belum mencukupi.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan uarian diatas serta hasil survey
yang dilakukan dapat disimpulan bahwa implemntasi Kurikulum 2013 disekolah
tersebut belum terlaksana sebagaimana yang diharapkan. Salah satu masalah
tersebut adalah masalah penilaian otentik, penilaian otentik sangat sulit
dilaksanakan akibat kurangnya pemahaman tentang pelaksanaan dan struktur
kutikulum 2013.
2. Saran
Berdasarkan penulisan diatas, maka penulis menyarankan agar :
1.
preoses
pembelajaran peerteaching supaya lebih diintensifkan salam setiap proses
pembelajran yang akan dilaksanakan.
2.
Instrumen penilaian
supaya dipersiapkan sebelum pelaksanaan pembelajaran.
Daftar refrensi :
1.
Bahan Diklat
TOT calon Fasilitator Nasional Kurikulum 2013. Badan pengembangan sumber daya
manusia Pendidikan dan Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
